You are here: Home > i-planner > Pensiun Kaya ? Bisa, kok !

Pensiun Kaya ? Bisa, kok !

11-Sep-15

Menampilkan IMG_20150911_100720.jpg

Menampilkan IMG_20150911_100902.jpg

Siapa sih, yang tak ingin masa pensiunnya bisa tetap bersenang-senang tanpa memikirkan biaya hidup yang kurang? Anda bisa, lo, melakukannya. Yuk, simak apa saja yang harus dilakukan untuk mencapainya.

Pernahkah terbayang dalam benak Anda, seperti apa kondisi finansial Anda saat memasuki masa pensiun atau usia senja kelak? Kondisi finansial seperti apa yang Anda inginkan pada saat itu dan sudahkah Anda menyiapkannya? Pensiun dalam keadaan keuangan sudah mapan, menurut perencana keuangan Fauziah Arsiyanti SE, MM, ChFC dari Fahima Advisory, bukan hal yang mustahil dilakukan.

Tentu saja hal itu tidak terjadi dalam waktu singkat menjelang pensiun. Ada persiapan finansial yang harus dilakukan jauh sebelumnya. “Itu sebabnya, menabung dalam bentuk apa pun penting dilakukan sejak dini, karena hasilnya akan jauh lebih banyak dibanding bila menabung ketika sudah tua, meski menabungnya sekaligus dalam jumlah banyak,” ujar perempuan yang akrab disapa Zizi ini.

Sesuatu yang dimulai dari kecil, asalkan konsisten, akan memberikan hasil yang bagus. “Semakin banyak usia kita ketika mulai berinvestasi,semakin besar uang  yang harus ditanamkan per bulannya. Begitu pula sebaliknya,” tuturnya sambil menambahkan, bila ingin kondisi finansial aman ketika pensiun, ada beberapa rambu yang harus ditaati, yaitu hati-hati dalam berinvestasi, tahu tujuan, dan harus disiplin serta konsisten menabung.

Investasi sendiri, menurut Zizi, terbagi menjadi tiga, yaitu konservatif, moderat, dan agresif. Ketiga kategori ini biasanya memiliki “penggemar” sendiri sesuai usianya, meski itu bukan hal yang mutlak. Mari kita simak penjelasan Zizi tentang investasi apa yang tepat dilakukan untuk usia 20-a, 30-an, dan 40-an.

Usia 20-an
Semakin muda usia seseorang, umumnya disarankan untuk mengambil investasi dengan kategori agresif, meski ada pula yang memilih kategori konservatif. Sebab, yang bersangkutan dianggap usianya masih panjang. Sehingga, seandainya investasinya jatuh secara signifikan, dia masih punya kesempatan untuk bangkit lagi. Tak heran, banyak anak muda yang memiliki portofolio investasi di saham, campuran, mungkin ada pula sedikit obligasi.

Diakui Zizi, pada rentang usia ini, mendapatkan penghasilan sendiri merupakan hal baru, sehingga menjadi konsumtif adalah hal yang lazim terjadi. Memperkenalkan kebiasaan berinvestasi pada mereka pun harus pelan-pelan dan dengan cara yang mereka sukai, sehingga tidak merasa terpaksa melakukannya. “Ini, kan, sama saja seperti menyimpan uang lalu dikunci, tidak tahu kapan boleh dibuka. Jadi seperti di awangawang.”

“Tidak perlu menabung secara ketat, karena biasanya yang terlalu ketat malah gampang berantakan. Menabung secara kecil-kecilan seperti di reksadana Pasar Uang atau reksadana Pendapatan Tetap juga bisa. Kalau punya uang agak banyak, misalnya Rp5 juta, bisa memilih Obligasi Ritel Indonesia (ORI),” paparnya. ila kesulitan menyisihkan dana tabungan ketika masih muda, memanfaatkan program bank di mana uang tabungan langsung dipotong dari rekening dalam jangka waktu tertentu juga bisa dipilih.

Ia menambahkan, berinvestasi pada usia muda juga perlu melihat tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, mengenali karakter diri sendiri juga penting. “Jangan sampai baru saja mulai investasi, karena tidak sabar atau khawatir lalu dijual,” ujar Zizi. Memilih berinvestasi properti pun, menurutnya, sah-sah saja dilakukan pada rentang usia ini. “Perlu diingat bahwa uang muka untuk properti biasanya 30 persen. Kalau memang ada uang untuk membayar uang muka, bukan meminjam, boleh saja. Malah, bagus banget sudah memikirkan properti sejak dini.”

Nah, bila tak ada uang untuk membayar uang muka, Zizi menyarankan untuk mulai menabungnya jauh-jauh hari dalam bentuk logam mulia (LM). “Beli LM setiap bulan sedikit demi sedikit, misalnya 2-3 gram. Makin lama, harganya bisa terus naik dan ketika sudah terkumpul banyak, bisa dijual untuk dijadikan uang muka rumah. LM relatif aman karena harganya sulit turun.”

Usia 30-an
Pada usia ini, biasanya orang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Sehingga, umumnya kebutuhan anak menjadi prioritas, antara lain sekolah, les, dan sebagainya. Umumnya, menurut Zizi, baru sedikit orang pada usia ini yang sudah memikirkan soal usaha dan finansial saat pensiun. Biasanya, Zizi mulai mengajak kliennya yang berusia 30-an untuk melihat peluang usaha untuk menambah pemasukan.

Sebab, pada masa ini orang biasanya sulit menabung karena kebutuhan anak  membutuhkan biaya sangat besar. “Kalau pengeluarannya diperketat, nanti malah jadi tidak realistis. Alih-alih mengurangi pengeluaran, lebih baik tambah pemasukan dengan cara mencari peluang usaha,” sarannya. Ini bisa ditempuh misalnya dengan menerima pesanan kue, bisnis online, dan sebagainya.

Bila pada rentang usia ini kebutuhan sudah cukup terpenuhi dan ada sisa uang tak terpakai yang akan digunakan untuk usaha dalam waktu beberapa tahun ke depan, Zizi menyarankan menginvestasikan uang dalam bentuk tabungan saja. Misalnya, disimpan dalam bentuk ORI atau Sukuk yang bunganya di atas bunga deposito. “Bila dimasukkan ke ORI, setiap bulan dia akan mendapatkan hasilnya dan saat ORI berakhir, uang awalnya akan dikembalikan dalam jumlah yang sama,” imbuhnya.

Namun, bagi yang menyukai investasi yang lebih aman, Zizi menyarankan untuk membeli properti. Misalnya, dibelikan rumah atau apartemen. “Namun, pemilihan apartemennya harus diperhatikan, baik secara lokasi, developer, dan sebagainya,” tandasnya. Hasil yang didapat dari investasi apartemen per tahun, lanjutnya, berkisar antara 20-30 persen, jauh lebih besar dibanding ORI dan Sukuk. Namun, ia mengingatkan bahwa properti tidak likuid alias tak mudah dijual.

Usia 40-an
Semakin tua usia seseorang, investasi yang diambil sebaiknya yang konservatif atau tidak berisiko tinggi. Sebab, masa hidupnya semakin pendek. “Kalau dia menanam saham di usia yang sudah banyak lalu nilai sahamnya turun, kapan dia bisa menikmatinya?” ujar Zizi. Meski demikian, ada juga orang-orang dengan usia ini yang berani mengambil kategori agresif. Biasanya, mereka sudah paham ilmu investasinya, sehingga tahu akan risikonya.

Zizi mengingatkan untuk tidak gampang tergiur investasi yang menjanjikan return (bunga) besar dalam waktu singkat. “Jangan mudah dirayu, sebab investasi yang too good to be true pasti bohong,” tandasnya. Investasi yang aman bisa dipastikan bunganya kecil.

Nah, orang di rentang usia ini umumnya kondisi finansialnya sudah mapan. Kalau ingin hidup enak kelak saat pensiun, investasi properti bisa jadi pilihan.

Selain itu, bisa juga uang ditanamkan pada investasi kategori konservatif lainnya, misalnya logam mulia, atau tabungan lain yang kecil risikonya. Bila ingin membuka usaha, yang bersangkutan bisa mulai melirik peluang, memanfaatkan jaringan relasi yang sudah dibangun dan pengalaman yang pernah didapat, kalau memang pernah mencoba. Sebaliknya, bila belum pernah berbisnis, membeli usaha waralaba bisa dipertimbangkan.

“Yang penting, teliti dulu usaha tersebut. Reputasi pemilik, peluang usaha, manajemen, dan lainnya harus bagus,” jelas Zizi sambil menambahkan, pada masa sekarang di mana gejolak pasar tak menentu, kurang pas bila hanya menginvestasikan uang ke pasar uang saja. Sebaiknya, juga diimbangi dengan investasi di bidang lain semisal bisnis.

 

 

 

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree